Embodied Learning dalam Metode Pembelajaran Seni Tari Berbasis Kode Gerak untuk Siswa Tunarungu di SLB Manunggal Slawi
##plugins.themes.academic_pro.article.main##
Published
Mar 26, 2026
Abstract
Pembelajaran seni tari bagi siswa tunarungu memerlukan pendekatan adaptif karena keterbatasan penerimaan stimulus auditori berdampak pada pemahaman irama dan ekspresi gerak. Karakteristik siswa tunarungu yang dominan visual dan kinestetik menuntut metode pembelajaran yang menempatkan tubuh sebagai media utama dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan embodied learning dalam metode pembelajaran seni tari berbasis kode gerak pada siswa tunarungu di SLB Manunggal Slawi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah siswa tunarungu tingkat SMA yang mengikuti pembelajaran seni tari di SLB Manunggal Slawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kode gerak memungkinkan siswa memahami konsep gerak tari melalui pengalaman tubuh secara langsung. Proses belajar tidak hanya berlangsung pada tataran kognitif, tetapi juga melalui interaksi antara tubuh, visual, dan ruang gerak. Siswa menunjukkan peningkatan keterlibatan, kepercayaan diri, serta kemampuan mengekspresikan gerak tari secara lebih bermakna. Temuan ini mengindikasikan bahwa embodied learning merupakan pendekatan yang relevan dalam pembelajaran seni tari bagi siswa tunarungu karena mampu menjembatani keterbatasan auditori melalui pengalaman belajar berbasis tubuh.
##plugins.themes.academic_pro.article.details##

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Hak Cipta :
Penulis yang mempublikasikan manuskripnya di jurnal ini menyetujui ketentuan berikut:
- Hak cipta pada setiap artikel adalah milik penulis.
- Penulis mengakui bahwa Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development berhak menjadi yang pertama menerbitkan dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International (Attribution 4.0 International CC BY 4.0) .
- Penulis dapat mengirimkan artikel secara terpisah, mengatur distribusi non-eksklusif manuskrip yang telah diterbitkan dalam jurnal ini ke versi lain (misalnya, dikirim ke repositori institusi penulis, publikasi ke dalam buku, dll.), dengan mengakui bahwa manuskrip telah diterbitkan pertama kali di Ranah Research.
References
Barsalou, L. W. (2008). Grounded cognition. Annual Review of Psychology, 59, 617–645.
Chan, J., & Chua, S. (2020). Movement-based learning in arts education for deaf students. International Journal of Arts Education.
Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Sage.
Glenberg, A. M. (2015). Few believe the world is flat: How embodiment is changing the scientific understanding of cognition. Psychonomic Bulletin & Review, 22(6), 1657–1674.
Koch, S. C., Kunz, T., Lykou, S., & Cruz, R. (2014). Effects of dance movement therapy and dance on health-related psychological outcomes: A meta-analysis. The Arts in Psychotherapy, 41(1), 46–64.
Lakes, R. (2013). The messages behind the methods: The authoritative pedagogical legacy in Western concert dance technique training and education. Arts Education Policy Review, 114(1), 3–20.
Lee, H., & Lim, J. (2021). Dance education and body awareness for students with hearing impairment. Asia Pacific Journal of Arts Education.
Lindgren, R., & Johnson-Glenberg, M. (2013). Emboldened by embodiment: Six precepts for research on embodied learning and mixed reality. Educational Researcher, 42(8), 445–452.
Lindgren, R., Tscholl, M., Wang, S., & Johnson, E. (2016). Enhancing learning and engagement through embodied interaction within a mixed reality simulation. Computers & Education, 95, 174–187.
Marschark, M., & Hauser, P. C. (2012). How deaf children learn: What parents and teachers need to know. Oxford University Press.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis. Sage.
Moleong, L. J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya.
Murwati, S., & Syefriani. (2024). Bahasa isyarat dalam pembelajaran seni tari bagi siswa tunarungu. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia.
Pouw, W. T. J. L., Gog, T., & Paas, F. (2014). An embedded and embodied cognition review of instructional manipulatives. Educational Psychology Review, 26(1), 51–72.
Pratiwi, R., & Nugraheni, S. (2022). Gesture-based learning in dance education for special needs students. Jurnal Pendidikan Seni.
Ratnasari, D., & Harsiwi, N. (2023). Dance learning and self-confidence among deaf students. Jurnal Pendidikan Inklusi.
Rositasari, F., & Prasetyanti, R. (2024). Sign code in guiding Ratoh Jaroe dance for deaf dancer. Jurnal Seni Pertunjukan.
Shapiro, L. (2011). Embodied Cognition. Routledge.
Shapiro, L., & Stolz, S. A. (2019). Embodied cognition and its significance for education. Theory and Research in Education, 17(1), 19–39.
Skulmowski, A., & Rey, G. D. (2018). Embodied learning: Introducing a taxonomy based on bodily engagement and task integration. Educational Psychology Review, 30(3), 749–776.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta.
Suryati. (2011). Strategi pembelajaran tari bagi siswa tunarungu di SLB Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Seni.
Varela, F. J., Thompson, E., & Rosch, E. (2002). The embodied mind: Cognitive science and human experience. MIT Press.
Wilson. (2002). – Embodied Cognition.